Selasa, 25 Mei 2010

manusia dan harapan

BAB I
PENDAHULUAN
Setiap manusia mempunyai harapan. Manusia tanpa harapan berati manusia itu mati dalam hidup. Orang yang akan meningalpun mempunyai harapan, biasanya berupapesan-pesan kepada ahli warisnya.
Harapan itu biasanya sesuai dengan pengetahuan, pengalaman, lingkungan hidup dan kemampuan. Misalnya, seseorang mempu membeli sepeda motor tidak mungkin membeli mobil.
Harapan harus sesuai berasarkan kepercayaan, baik kepercayaan pada diri sendiri maupun kepercayaan kepada Tuhan YME. Agar harapannya terwujud, maka selain berusaha dengan sungguh-sungguh, manusia tak lepas atau tidak boleh bosan berdo’a. Hal ini disebabkan karena antara harapan dan kepercayaan itu tidak dapa dipisahkan. Harapan dan kepercayaan itu merupakan bagian hidup manusia.











BAB II
PERMASALAHAN
1. Pengertian Harapan
2. Harapan dan Fenomena Sosial
3. Kepercayaan
4. Harapan aalah Semangat Hidup Manusia

BAB III
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Harapan berasal dari kata harap yang berarti keinginan supaya sesuatu terjadi: sehingga harapan berarti sesuatu yang diinginkan dapat terjadi. Dengan demikian harapan menyangkut masa depan.
Berhasil atau tidaknya suatu harapan tergantung pada usaha orang yang mempunyai harapan. Harapan harus berdasarkan kepercayaan, baik kepercayaan pada diri sendiri, maupun kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

B. Harapan adalah Fenomena Sosial
Selama masih hidup semua orang selalu ada perasaan berharap. Kadang kala seseorang yang gagal dalam meraih apa yang diharapkan akan menimbulkan ketidak seimbangan di dalam hidupnya. Ketidak seimbangan ini dapat berwujud dalam berbagai macam wujud dalam berbagi macam bentuk yang dapat memberikan beban mental pada diri sendiri, misalnya : putu asa, selalu termenung, frustasi, dan sebagainya. Tetapi pada orang lain kegagalan yang diperoleh akan dianggap sebagai suatu pengalaman, sehingga dirinya sadar untuk berusaha lebih giat.
Tercapainya keinginan seseorang dapat ditempuh dengan berbagai macam cara, ada yang menempuhnya dengan cara yang telah dilarang oleh norma-norma agama dan hukum dan ada pada yang menempuhnya dengan cara yang dibenarkan oleh norma-norma tersebut.
Menurut kodratnya manusia adalah mahluk sosial. Setiap lahir ke dunia ini langsung disambut dalam suatu pergaulan hidup, yakni di tengah suatu keluarga atau anggota masarakat lainnya. Tak ada suatu manusia pun yang luput dari pergaulan hidup. Di tengah manusia lain itulah seorang dapat hidup dan berkembang baik phisik jasmani ( sandang, pangan, papan) dan spiritualnya (kebahagiaan, kepuasan, keberhasilan, hiburan).
Sehubungan kebutuhan-kebutuhan manusia itu, Abraham Maslow mengkatagorika kebutuhan menusia menjadi lima macam. Lima macam kebutuhan itu merupakan lima harapan manusia yaitu :
1. Harapan untuk memperoleh kelangsungan hidup,
2. Harapan untuk memperoleh keamanan,
3. Harapan untuk memiliki hak dan kewajiban untuk mencintai dan di cintai,
4. Harapan memperoleh status atau diterima atau diakui lingkungan,
5. Harapan untuk memperoleh perwujudan dan cita-cita.

C. Kepercayaan
Kepercayaan berasaldari kata percaya, artinya mengakui atau meyakini akan kebenaran. Kepercayaan adalah hal–hal yang berhubungan dengan pengakuan atau keyakinan akan kebenaran. Dasar kepercayaan adalah kebenaran. Sumber kebenaran adalah manusia. Maka kepercayaan dapat di bedakan menjadi :
1. Kepercayaan kepada diri sendiri
Pada dasarnya percaya pada diri sendiri merupakan percaya pada Tuhan YME. Percaya pada diri sendiri, menganggap dirinya tidak salah, dirinya menang, dirinya mampu mengerjakan yang diserahkan atau dipercayakan.
2. Kepercayaan kepada orang lain
Kepercayaan kepada orang lain itu sudah tentu percaya terhadap kata hatinya, perbuatan yang sesuai dengan kata hati, atau terhadap kebenarannya. contohnya: orang yang berjanji sesuatu itu dipenuhi meskipun janji itu tidak terdengar oleh orang lain.
3. Kepercayaan kepada Tuhan
Kepercayaan kepada Tuhan YME itu amat penting, karena keberadaan manusia itu bukan dengan sendirinya, tetapi diciptakan oleh Tuhan. Kepercayaan berarti keyakinan dan pengakuan akan kebenaran. Kepercayaan amat penting, karena merupakan tali kuat yang menghubungkan manusia dengan Tuhannya. Usaha yang dilakukan untuk meningkatkan kepercayaan kepada Tuhan YME adalah :
1. Meningkatkan ketaqwaan kita
2. Meningkatkan pengabdian kita
3. Meningkatkan kecintaan kita kepada sesama manusia.

D. Harapan adalah semangat Hidup Manusia
Dewasa ini sering kita temui banyaknya cendikiawan-cendekiawan muda menorehkan presasi dalam bidang akademik hal seperti ini tidak luput dari kerja keras sebagai individu yang dalam mencapai keberhasilan. Sikap untuk menjadi hidup lebih baik serta harapan tinggi menjadi modal penting meraih kesuksesan. Keberhasilan seseorang itu tidak dapat diraih hanya dengan sikap pasrah saja tetapi harus di sertai dengan usaha dan sikap kerja keras dan selalu berfikir optimis untuk meraihnya. Harapan yang tinggi menjadikan sseorang untuk memacu menjadi orang yang lebih baik dan memiliki prestasi yang baik. Dari tingginya harapan manusia untuk memperoleh sesuatu hal yang diinginkannya maka manusia harus memiliki semangat untuk hidup yang tinggi. Dari harapan itulah manusia bisa mewujudkan apa yang mereka inginkan. Tanpa harapan tentunya manusia tidak akan bisa berhasil mewujudkan ssesuatuyang diingnannya.




















BAB IV PENUTUP
Pada hakekatnya manuia dan harapan memiliki keterkaitan yang sama satu dengan yang lain, harapan merupakan keinginan seseorang untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan misalnya didalam kehidupan nyata sering kita melihat realitas mengenai kehidupan manusia yang memilki keteguhan dan kesungguhan dalam memperoleh harapan yang diinginkan pasti seorang tersebut memiliki harapan kelak dapat diterima dan dihargai dalam lingkungan sekitarnya. Kebutuhan untuk memperoleh harapan juga penting karena tanpa kebutuhan mendasar dalam diri individu pasti harapan tersebut tidak dapat terwujud dengan baik.















DAFTAR PUSTAKA
Dendosurono, Prawiyotmojo. 1982. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Tim Pembina ISD-FPIPS IKIP.
Mustopo, Habib. 1989. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Usaha Nasional

layanan penempatan dan penyaluran kelas 3 sma

BAB I
PENDAHULUAN
Carl R. Rogers mengembangkan terapi client centred sebagai reaksi terhadap apa yang di sebutnya keterbatasan-keterbatasan mendasar dari psiko analisis. Pada hakikatnya pendekatan clien centred adalah cabang khusus dari terapi humanistik yang menggaris bawahi tindakan mengalami klien berikut dunia subjektif dan fenomenanya. Terapis berfungsi terutama sebagai penunjang petumbuhan pribadi kliennya dengan jalan membantu kliennya itu dalam menemukan kesanggupan klien untuk mengikuti jalan terapi dan menemukan jalannya sendiri. Hubungan teraepeutik antara terapis dan klien merupakan katalisator bagi perubahan klien menggunakan hubungan yang unik sebagai alat ukur meningkatkan kesadaran dan untuk menemukan sumber-sumber terpendam yang bisa digunakan secara konstruktif dalam pengubahan hidupnya.










BAB II
ISI
A. Pengertian
Clien centered adalah suatu pendekatan yang berpusat pada clien, clien akan dapat mengatur dirinya sendiri pada tingkat dasar maupun yang lebih dalam sehingga dalam konseling inisiatif harus datang dari klien sendiri.
B. Konsep Dasar
Pandangan clien centered tentang sifat manusia menolak konsep tentang kecenderunagn-kecenderungan negatif dasar. Sementara beberapa pendekatan beranggapan bahwa manusia menurut kodratnya adalah irasional dan berkecenderungan merusak terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain kecuali jika telah menjalani sosialisasi, Rogers menunjukkan kepercayaan yang mendalam pada manusia. Ia memandang manusia sebagai tersosialisasi dan bergerak ke muka.
Dalam model clien centered menolak konsep yang memandang terapis sebagai otoritas yang mengetahui yang terbaik dan yang memandang klien sebagai manusia pasif yang haya mengikuti perintah-perintah terapis. Oleh karena itu, terapi client centered berakar pada kesanggupan klien untuk sadar dan membuat putusan-putusan.

Rogers menguraikan ciri-ciri yang membedakan pendekatan clien centere dari pendekatan-pendekatan lain , berikut ini adaptasi ari pendekatan Rogers:
1. Difokuskan pada tanggung jawab dan kesaggupan klien untuk menemukan cara-cara menghadapi kenyataan secara lebih penuh.
2. Menekankan dunia fenomenal klien. Dengan empati yang cermat dan dengan usaha untuk memahami klien. Dengan empati yang cermat dan dengan usaha untuk memahami kerangka acuan internal klien, terapis memberikan perhatian terutama pada persepsi diri klien dan persepsinya terhadap dunia
C. Tujuan
Pada dasarnya klien sendiri menentukan tujuan konseling, konselor hanya membantu klien menjadi lebih matang dan kembali melakukan aktualisasi diri dengan menghilangkan hambatan-hambatannya. Namun secara lebih khusus membebaskan klien dari kungkungan tingkah laku (yang dipelajarinya) selama ini, yang semuanya itu membuat dirinya palsu dan terganggu dalam aktualisasi dirinya.Pengalaman Klien dalam Konseling.
Sesuai dengan konsep dasar CC maka tujuan konselng adalah :
1. Memberi kesempatan dan kebebasan kepada individu atau klien untuk mengekspresikan perasaan-perasaannya, berkembangan terealisasi potensinya.
2. Membantu individu untuk makin sanggup berdiri sendiri dalam mengadakan integrasi dalam lingkungannya dan bukan pada penyembuhan tingkah laku itu sendiri
3. Membantu individu dalam mengadakan perubahan dan pertumbuhan.



D. Perkembangan Kepribadian
a. Struktur kepribadian.
Struktur kepribadian dalam teori Rogers meliputi:
1) Organisme adalah tempat semua pengalaman, segala sesuatu, yang secara potensial terdapat dalam kesadaran setiap saat, yakni persepsi seseorang mengenai event yang terjadi di dalam diri dan dunia eksternal. Organisme menanggapi dunia seperti yang diamati atau dialaminya (realitas) dan satu kesatuan sistem, sehingga perubahan pada satu bagian akan mempengaruhi bagian lain. Setiap perubahan memiliki makna pribadi dan bertujuan, yakni bertujuan mengaktualisasi, mempertahankan, dan mengembangkan diri.
2) Lapangan Fenomena meliputi pengalaman internal (persepsi mengenai diri sendiri) dan pengalaman eksternal (persepsi mengenai dunia luar). Lapangan fenomena juga meliputi pengalaman yang disimbolkan (diamati dan disusun dalam kaitannya dengan diri sendiri), disimbolkan tetapi diingkari/dikaburkan (karena tidak konsisten dengan struktur dirinya), dan tidak disimbolkan atau diabaikan (karena diamati tidak mempunyai hubungan dengan struktur diri). Pengalaman yang disimbolkan disadari, sedangkan pengalaman yang diingkari dan diabaikan tidak disadari. Semua persepsi bersifat subjektif, dengan kata lain benar menurutnya sendiri. Medan fenomena seseorang tidak dapat diketahui oleh orang lain kecuali melalui inferensi empirik, itupun pengetahuan yang diperoleh tidak bakal sempurna.

3) Self merupakan satu-satunya struktur kepribadian yang sebenarnya. Dengan kata lain self terbentuk melalui deferiensiasi medan fenomena dan melalui introjeksi nilai-nilai orang tertentu serta dari distorsi pengalaman. Self bersifat integral dan konsisten. Pengalaman yang tidak sesuai dengan struktur self dianggap ancaman dan self dapat berubah sebagai akibat kematangan biologik dan belajar. Konsep self menggambarkan konsepsi mengenai dirinya sendiri, ciri-ciri yang dianggapnya menjadi bagian dari dirinya. Misalnya, orang mungkin memandang dirinya sebagai; “saya cerdas, menyenangkan, jujur, baik hari, dan menarik”. Alwisol (2006: 322)

b. Keperibadian yang normal (sehat)
Terdapat keseimbangan antara organisme, lapangan fenomena dan self sebagai hasil dari interaksi individu untuk selalu berkembang.

c. Keperibadian yang menyimpang (TLSS).
1) Adanya ketidakseimbangan/ketidaksesuaian antara pengalaman organismik dan self yang menyebabkan individu merasa rapuh dan mengalami salah suai.
2) Kharakteristik pribadi salah suai:
Estrangement: membenarkan apa yang ses ungguhnya oleh diri sendiri tidak mengenakkan.
Incongruity in behavior: ketidaksesuaian tingkah laku karena COW; hal ini sering menimbulkan kecemasan
Kecemasan: kondisi yang ditimbulkan oleh adanya ancaman terhadap kesadaran tentang diri sendiri.
Defense mechanism (DM), tindakan yang diambil oleh individu agar tampak konsisten terhadap struktur self (yang salah itu)
3) Gejala TLSS:
(a) Kecemasan atau ketengan terus menerus
(b) Tingkah laku yang rigid (tidak luwes)
(c) Menolak situasi baru
(d) Salah dalam memperhatikan.

E. Pola Hubungan
1. Adanya hubungan psikologi antara konselor dengan klien.
2. Adanya pernyataan incongruence oleh klien
3. Adanya pernyataan congruence oleh konselor
4. Adanya uncondisional positive regard dan pemahaman yang empatik dari konselor kepada klien
5. Adanya persepsi klien terhadap konselor positiv regard dan pemahaman empatik.
F. Peran dan Tugas konselor
Sejalan dengan proses konseling dengan pendekatan CC sebagai mana diuraukan diatas, maka peran konselor secara terperinci dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Konselor tidak memimpin, mengatur atau menentukan proses perkembangan konseli, tetapi hal tersebut dalakuakan oleh klien sendiri.
2. Konselor merefleksikan perasaan-perasaan klien, sedangkan arah pembicaraan ditentukan oleh klien.
3. Konselor menerima individu dengan sepenuhnya dalam keadaan atau kenyataan yang bagaimanapun
4. Konselor memberi kebebasab kepada klien untuk mengekspresikan perasaan sedalam-dalamnya dan seluas-lusnya.

Sehubungan dengan hal ini, menurut Rogers, seorang konselor harus memiliki beberapa syarat yatu :
1. Memiliki sensifitas dalam hubungan insani
2. Memiliki sifat yang objektif
3. menghormati kemuliaan orang lain
4. Memahami diri sendiri
5. Bebas dari prasangka yang komplek-komplek dalam dirinya
6. Sambil masuk dalam dunia klien (empati) secara simpatik.

G. Proses dan Tehnik-tehnik Konseling
1. Klien merasa nyaman berada bersama konselor, karena konselor tidak pernah merespon negatif.
2. Klien didorong untuk sebanyak mungkin menggunakan kata ganti “saya”.
3. Klien didorong untuk melihat pengalaman-pengalamannya dari sudut yang lebih realistik.
4. Klien mengekspresikan perasaan yang benar-benar ia rasakan.
5. Klien didorong untuk kembali menjadi dirinya. Prayitno (1998:64)









DAFTAR PUSTAKA
Corey, Gerald. 2003. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung : PT Refika Aditama.
Pujosuwarno, Sayekti. 1993. Berbagai Pendekatan dalam Konseling. Yogyakarta : Menara Mas Offset.
On-line : http://konselingindonesia.com/index.php?option=com_content&task=view&id=31&Itemid=93 ( 11 Maret 2010 )

clien cenrted

BAB I
PENDAHULUAN
Carl R. Rogers mengembangkan terapi client centred sebagai reaksi terhadap apa yang di sebutnya keterbatasan-keterbatasan mendasar dari psiko analisis. Pada hakikatnya pendekatan clien centred adalah cabang khusus dari terapi humanistik yang menggaris bawahi tindakan mengalami klien berikut dunia subjektif dan fenomenanya. Terapis berfungsi terutama sebagai penunjang petumbuhan pribadi kliennya dengan jalan membantu kliennya itu dalam menemukan kesanggupan klien untuk mengikuti jalan terapi dan menemukan jalannya sendiri. Hubungan teraepeutik antara terapis dan klien merupakan katalisator bagi perubahan klien menggunakan hubungan yang unik sebagai alat ukur meningkatkan kesadaran dan untuk menemukan sumber-sumber terpendam yang bisa digunakan secara konstruktif dalam pengubahan hidupnya.










BAB II
ISI
A. Pengertian
Clien centered adalah suatu pendekatan yang berpusat pada clien, clien akan dapat mengatur dirinya sendiri pada tingkat dasar maupun yang lebih dalam sehingga dalam konseling inisiatif harus datang dari klien sendiri.
B. Konsep Dasar
Pandangan clien centered tentang sifat manusia menolak konsep tentang kecenderunagn-kecenderungan negatif dasar. Sementara beberapa pendekatan beranggapan bahwa manusia menurut kodratnya adalah irasional dan berkecenderungan merusak terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain kecuali jika telah menjalani sosialisasi, Rogers menunjukkan kepercayaan yang mendalam pada manusia. Ia memandang manusia sebagai tersosialisasi dan bergerak ke muka.
Dalam model clien centered menolak konsep yang memandang terapis sebagai otoritas yang mengetahui yang terbaik dan yang memandang klien sebagai manusia pasif yang haya mengikuti perintah-perintah terapis. Oleh karena itu, terapi client centered berakar pada kesanggupan klien untuk sadar dan membuat putusan-putusan.

Rogers menguraikan ciri-ciri yang membedakan pendekatan clien centere dari pendekatan-pendekatan lain , berikut ini adaptasi ari pendekatan Rogers:
1. Difokuskan pada tanggung jawab dan kesaggupan klien untuk menemukan cara-cara menghadapi kenyataan secara lebih penuh.
2. Menekankan dunia fenomenal klien. Dengan empati yang cermat dan dengan usaha untuk memahami klien. Dengan empati yang cermat dan dengan usaha untuk memahami kerangka acuan internal klien, terapis memberikan perhatian terutama pada persepsi diri klien dan persepsinya terhadap dunia
C. Tujuan
Pada dasarnya klien sendiri menentukan tujuan konseling, konselor hanya membantu klien menjadi lebih matang dan kembali melakukan aktualisasi diri dengan menghilangkan hambatan-hambatannya. Namun secara lebih khusus membebaskan klien dari kungkungan tingkah laku (yang dipelajarinya) selama ini, yang semuanya itu membuat dirinya palsu dan terganggu dalam aktualisasi dirinya.Pengalaman Klien dalam Konseling.
Sesuai dengan konsep dasar CC maka tujuan konselng adalah :
1. Memberi kesempatan dan kebebasan kepada individu atau klien untuk mengekspresikan perasaan-perasaannya, berkembangan terealisasi potensinya.
2. Membantu individu untuk makin sanggup berdiri sendiri dalam mengadakan integrasi dalam lingkungannya dan bukan pada penyembuhan tingkah laku itu sendiri
3. Membantu individu dalam mengadakan perubahan dan pertumbuhan.



D. Perkembangan Kepribadian
a. Struktur kepribadian.
Struktur kepribadian dalam teori Rogers meliputi:
1) Organisme adalah tempat semua pengalaman, segala sesuatu, yang secara potensial terdapat dalam kesadaran setiap saat, yakni persepsi seseorang mengenai event yang terjadi di dalam diri dan dunia eksternal. Organisme menanggapi dunia seperti yang diamati atau dialaminya (realitas) dan satu kesatuan sistem, sehingga perubahan pada satu bagian akan mempengaruhi bagian lain. Setiap perubahan memiliki makna pribadi dan bertujuan, yakni bertujuan mengaktualisasi, mempertahankan, dan mengembangkan diri.
2) Lapangan Fenomena meliputi pengalaman internal (persepsi mengenai diri sendiri) dan pengalaman eksternal (persepsi mengenai dunia luar). Lapangan fenomena juga meliputi pengalaman yang disimbolkan (diamati dan disusun dalam kaitannya dengan diri sendiri), disimbolkan tetapi diingkari/dikaburkan (karena tidak konsisten dengan struktur dirinya), dan tidak disimbolkan atau diabaikan (karena diamati tidak mempunyai hubungan dengan struktur diri). Pengalaman yang disimbolkan disadari, sedangkan pengalaman yang diingkari dan diabaikan tidak disadari. Semua persepsi bersifat subjektif, dengan kata lain benar menurutnya sendiri. Medan fenomena seseorang tidak dapat diketahui oleh orang lain kecuali melalui inferensi empirik, itupun pengetahuan yang diperoleh tidak bakal sempurna.

3) Self merupakan satu-satunya struktur kepribadian yang sebenarnya. Dengan kata lain self terbentuk melalui deferiensiasi medan fenomena dan melalui introjeksi nilai-nilai orang tertentu serta dari distorsi pengalaman. Self bersifat integral dan konsisten. Pengalaman yang tidak sesuai dengan struktur self dianggap ancaman dan self dapat berubah sebagai akibat kematangan biologik dan belajar. Konsep self menggambarkan konsepsi mengenai dirinya sendiri, ciri-ciri yang dianggapnya menjadi bagian dari dirinya. Misalnya, orang mungkin memandang dirinya sebagai; “saya cerdas, menyenangkan, jujur, baik hari, dan menarik”. Alwisol (2006: 322)

b. Keperibadian yang normal (sehat)
Terdapat keseimbangan antara organisme, lapangan fenomena dan self sebagai hasil dari interaksi individu untuk selalu berkembang.

c. Keperibadian yang menyimpang (TLSS).
1) Adanya ketidakseimbangan/ketidaksesuaian antara pengalaman organismik dan self yang menyebabkan individu merasa rapuh dan mengalami salah suai.
2) Kharakteristik pribadi salah suai:
Estrangement: membenarkan apa yang ses ungguhnya oleh diri sendiri tidak mengenakkan.
Incongruity in behavior: ketidaksesuaian tingkah laku karena COW; hal ini sering menimbulkan kecemasan
Kecemasan: kondisi yang ditimbulkan oleh adanya ancaman terhadap kesadaran tentang diri sendiri.
Defense mechanism (DM), tindakan yang diambil oleh individu agar tampak konsisten terhadap struktur self (yang salah itu)
3) Gejala TLSS:
(a) Kecemasan atau ketengan terus menerus
(b) Tingkah laku yang rigid (tidak luwes)
(c) Menolak situasi baru
(d) Salah dalam memperhatikan.

E. Pola Hubungan
1. Adanya hubungan psikologi antara konselor dengan klien.
2. Adanya pernyataan incongruence oleh klien
3. Adanya pernyataan congruence oleh konselor
4. Adanya uncondisional positive regard dan pemahaman yang empatik dari konselor kepada klien
5. Adanya persepsi klien terhadap konselor positiv regard dan pemahaman empatik.
F. Peran dan Tugas konselor
Sejalan dengan proses konseling dengan pendekatan CC sebagai mana diuraukan diatas, maka peran konselor secara terperinci dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Konselor tidak memimpin, mengatur atau menentukan proses perkembangan konseli, tetapi hal tersebut dalakuakan oleh klien sendiri.
2. Konselor merefleksikan perasaan-perasaan klien, sedangkan arah pembicaraan ditentukan oleh klien.
3. Konselor menerima individu dengan sepenuhnya dalam keadaan atau kenyataan yang bagaimanapun
4. Konselor memberi kebebasab kepada klien untuk mengekspresikan perasaan sedalam-dalamnya dan seluas-lusnya.

Sehubungan dengan hal ini, menurut Rogers, seorang konselor harus memiliki beberapa syarat yatu :
1. Memiliki sensifitas dalam hubungan insani
2. Memiliki sifat yang objektif
3. menghormati kemuliaan orang lain
4. Memahami diri sendiri
5. Bebas dari prasangka yang komplek-komplek dalam dirinya
6. Sambil masuk dalam dunia klien (empati) secara simpatik.

G. Proses dan Tehnik-tehnik Konseling
1. Klien merasa nyaman berada bersama konselor, karena konselor tidak pernah merespon negatif.
2. Klien didorong untuk sebanyak mungkin menggunakan kata ganti “saya”.
3. Klien didorong untuk melihat pengalaman-pengalamannya dari sudut yang lebih realistik.
4. Klien mengekspresikan perasaan yang benar-benar ia rasakan.
5. Klien didorong untuk kembali menjadi dirinya. Prayitno (1998:64)









DAFTAR PUSTAKA
Corey, Gerald. 2003. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung : PT Refika Aditama.
Pujosuwarno, Sayekti. 1993. Berbagai Pendekatan dalam Konseling. Yogyakarta : Menara Mas Offset.
On-line : http://konselingindonesia.com/index.php?option=com_content&task=view&id=31&Itemid=93 ( 11 Maret 2010 )