Rabu, 16 September 2009

1. Bidang pengembangan kegiatan belajar
Dalam kehidupan sehari-hari kita telah melakukan banyak kegiatan yang sebenarnya merupakan gejala belajar, dalam arti umum melakukan kegiatan kalau kita tidak belajar terlebih dahulu misalnya menggunakan pakaian, kita makan dengan menggunakan supit, kita berkomunikasi satu sama lain dalam bahasa nasional, dll.
Boleh dikatakan kegiatan belajar adalah proses perubahan dari belum mampu ke arah sudah mampu. Dan proses belajar itu terjadi selama jangka waktu tertentu , adanya perubahan dalam pola perilaku inilah yang menandakan telah terjadi belajar.
Yang dibicarakan dalam kegiatan belajar boleh dikatakan bentuk-bentuk belajar, cara belajar yang enak dan nyaman dan tidak membuat bosan.

Dalam pengembangan kegiatan belajar ada hal-hal yang perlu diperhatikan diantaranya :
a. Bentuk-bentuk belajar menurut fungsi psikis :
1. Belajar dinamik. Ciri khasnya terletak dalam belajar menghendaki sesuatu secara wajar. Sehingga orang tidak menyerah pada sembarang menghendaki dan juga tidak menghendaki sembarang hal. Berkehendak adalah suatu aktifitas psikis yang terarah pada pemenuhan suatu kebutuhan yang disadari dan dihayati.
2. Belajar afektif. Salah satu cirinya adalah belajar menghayati nilai dari obyek-oyek yang dihadapi melalui alam perasaan. Entah objek itu berupa orang , benda atau kejadian/peristiwa. Cirri yang lain terletak dalam belajar mengungkapkan perasaan dalam bentuk ekspresi yang wajar.
3. Belajar seni motorik. Cirri khasnya terletak dalam belajar menghadapi dan menangani objek-objek secara fisik, termasuk kejasmanian manusia sendiri. Misalnya : menggerakkan anggota-anggota badan sambil renang, memegang alat sambil melukis.


b. Bentuk-bentuk belajar menurut materi yang dipelajari
1. Belajar teoritis. Bentuk belajar ini bertujuan untuk menempatkan semua data dan fakta ( pengetahuan ) dalam suatu kerangka organisasi mental, sehingga dapat dipahami dan digunakan untuk memecahkan problem, seperti terjadi dalam bidang studi ilmiyah.
2. Belajar teknis. Bentuk belajar ini bertujuan mengembangkan keterampilan-keterampilan dalam menangani dan memegang benda-benda serta menyusun bagian-bagian materi menjadi suatu keseluruhan, misalnya belajar mengetik dan membuat suatu mesin tik. Belajar ini juga kerap disebut belajar motorik.
3. Belajar bermasyarakat. Betuk belajar ini bertujuan mengekang dorongan dan kecenderungan spontan, demi kehidupan bersama dan memberikan kelonggaran kepada orang lain untuk memahami kehidupannya.

Pengembangan kegiatan belajar perlu dibicarakan dikarenakan setiyap kegitan belajar dalam kurun waktu yang lama akan mengalami kejenuhan. Oleh karenanya pengembangan kegiatan belajar sangat diperlukan untuk mengantisipasi kejenuhan.

2. Bidang pengembangan perencanaan, pelaksanaan dan pemantapan karier
Bimbingan karier adalah suatu perangkat, lebih tepatnya suatu program yang sistemaik, proses-proses, teknik-teknik, atau layanan-layanan yang dimaksudkan untuk membantu individu memahami dan berbuat atas dasar pengenalan diri dan pengenalan kesempatan-kesempatan dalam pekerjaan, pendidikan, dan waktu luang serta mengembangkan keterampilan-keterampilan mengambil keputusan sehingga yang bersangkutan dapat menciptakan dan mengelola perkembangan kariernya.

Dalam hal ini yang dibicarakan mengenai Bimbingan karier tidak hanya sekedar memberikan respon kepada masalah-masalah yang muncul, akan tetapi juga membantu memperoleh pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan.
Penggunaan istilah karier didalamnya terkandung makna pekerjaan dan sebatan sekaligus rangkaian kegiatan dalam mencapai tujuan hidup seseorang. Hattari (1983) menyebutkan bahwa istilah bimbingan karier mengandung konsep yang lebih luas. Bimbingan jabatan menekankan pada keputusan yang menentukan pekerjaan tertentu sedangkan bimbingan karier menitikberatkan pada perencanaan kehidupan seseorang dengan mempertimbangkan keadaan dirinya dengan lingkungannya agar ia memperoleh pandangan yang lebih luas tentang pengaruh dari segala peranan positif yang layak dilaksanakannya dalam masyarakat.
Perubahan isitilah dari bimbingan jabatan (vocational guidance) ke bimbingan karier mengandung konsekuensi terhadap peran dan tugas konselor dalam memberikan layanan bimbingan terhadap para siswanya. Peran dan tugas konselor tidak hanya sekedar membimbing siswa dalam menentukan pilihan-pilihan kariernya, tetapi dituntut pula untuk membimbing siswa agar dapat memahami diri dan lingkungannya dalam rangka perencanaan karier dan penetapan karier pada kehidupan masa mendatang.
Dalam perkembangannya, sejalan dengan kemajuan dalam bidang teknologi informasi dewasa ini, bimbingan karier merupakan salah satu bidang bimbingan yang telah berhasil mempelopori pemanfaatan teknologi informasi, dalam bentuk cyber counseling.
Sementara itu, dalam perspektif pendidikan nasional, pentingnya bimbingan karier sudah mulai dirasakan bersamaan dengan lahirnya gerakan bimbingan dan konseling di Indonesia pada pertengahan tahun 1950-an, berawal dari kebutuhan penjurusan siswa di SMA pada waktu itu. Selanjutnya, pada tahun 1984 bersamaan dengan diberlakukannya Kurikulum 1984, bimbingan karier cukup terasa mendominasi dalam layanan bimbingan dan penyuluhan dan pada tahun 1994, bersamaan dengan perubahan nama bimbingan penyuluhan menjadi bimbingan dan konseling dalam Kurikulum 1994, bimbingan karier ditempatkan sebagai salah bidang bimbingan.
Sampai dengan sekarang ini bimbingan karier tetap masih merupakan salah satu bidang bimbingan. Dalam konsteks Kurikulum Berbasis Kompetensi, dengan diintegrasikannya Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education) dalam kurikulum sekolah, maka peranan bimbingan karier sungguh menjadi amat penting, khususnya dalam upaya membantu siswa dalam memperoleh kecakapan vokasional (vocational skill), yang merupakan salah jenis kecakapan dalam Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education).
Terkait dengan penjabaran kompetensi dan materi layanan bimbingan dan konseling di SMTA, bidang bimbingan karier diarahkan untuk :
1. Pemantapan pemahaman diri berkenaan dengan kecenderungan karier yang hendak dikembangkan.
2. Pemantapan orientasi dan informasi karier pada umumnya dan karier yang hendak dikembangkan pada khususnya.
3. Orientasi dan informasi terhadap dunia kerja dan usaha memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidup berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
4. Pengenalan berbagai lapangan kerja yang dapat dimasuki tamatan SMTA.
5. Orientasi dan informasi terhadap pendidikan tambahan dan pendidikan yang lebih tinggi, khususnya sesuai dengan karier yang hendak dikembangkan.

Khusus untuk Sekolah Menengah Kejuruan; pelatihan diri untuk keterampilan kejuruan khusus pada lembaga kerja (instansi, perusahaan, industri) sesuai dengan program kurikulum sekolah menengah kejuruan yang bersangkutan. (Muslihudin, dkk, 2004)


















































DAFTAR PUSTAKA


Bahrul, Falah. 1987. Konstribusi Orientasi Nilai Pekerjaan dan Informasi Karier terhadap Kematangan Karier (Skripsi). Bandung : PPB-FIP IKIP Bandung.

Harjanto.1997.Perencanaan Pengajaran.Jakarta:Rineka Cipta.

Hattari. 1983. Ke Arah Pengertian Bimbingan Karier dengan Pendekatan Developmental. Jakarta : BP3K.

Muslihudin, dkk. 2004. Bimbingan dan Konseling (Makalah). Bandung : LPMP Jawa Barat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar